Modul 1 pembelajaran IPA di SD - Unduh Buku | 1-48 Halaman (2024)

PEMBELAJARAN IPA DI SD Anita Ekawati,S.Pd.,M.Si.

Tinjauan Mata Kuliah Pembelajaran IPA di SD bertujuan untuk memberikan, mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran IPA dengan menggunakan pendekatan, metode, dan alat bantu pembelajaran yang sesuai dengan materi dan indikator yang harus dicapai seperti tercantum pada kurikulum berbasis kompetensi dengan mempertahankan perkembangan dan karakteristik siswa.

Kemampuan yang diharapkan setelah Anda mempelajari mata kuliah ini, yaitu: 1. memahami karakteristik siswa dan menerapkan teori belajar dalam pembelajaran IPA; 2. menerapkan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan karakteristik materi; 3. menerapkan pendekatan pembelajaran yang tepat sesuai dengan karakteristik materi; 4. menerapkan pendekatan keterampilan proses IPA yang sesuai dengan karakteristik materi; 5. merancang dan memanfaatkan alat bantu belajar dalam pembelajaran IPA yang sesuai dengan karakteristik materi; 6. merancang evaluasi proses dan hasil pembelajaran IPA; 7. membuat alat evaluasi yang benar sesuai dengan karakteristik materi;

MATA KULIAH PEMBELAJARAN IPA DI SD BERBOBOT 3 SKS TERDIRI DARI 9 MODUL 1. Modul 1 : Teori Belajar dalam Pembelajaran IPA SD. 2. Modul 2 : Pendekatan dalam Pembelajaran IPA SD. 3. Modul 3 : Metode dalam Pembelajaran IPA SD. 4. Modul 4 : Keterampilan Proses IPA di SD. 5. Modul 5 : Media dan Alat Peraga dalam Pembelajaran IPA. 6. Modul 6 : Pembelajaran IPA Terintegrasi. 7. Modul 7 : Evaluasi Proses dan Hasil Belajar IPA. 8. Modul 8 : Telaah Kurikulum 2013 dan Pembelajarannya dalam Rancangan Pembelajaran IPA di Tingkat SD/MI. 9. Modul 9 : Merancang Pembelajaran IPA.

Pembelajaran IPA di SD/PDGK4202/ 3 sks

Agar Anda dapat berhasil dengan baik dalam menguasai mata kuliah ini, maka Anda diharapkan mengikuti petunjuk umum berikut ini : 1. Baca setiap modul pembelajaran IPA di SD sampai mencapai tingkat penguasaan minimal 80%. 2. Kerjakan dengan cermat dan saksama setiap kegiatan yang dipersyaratkan serta lakukan tahap demi tahap dari setiap modul sesuai dengan urutannya. 3. Gunakan bahan pendukung lain serta buku-buku yang direferensikan dalam daftar pustaka agar Anda dapat lebih memahami konsep setiap modul. 4. Lakukan diskusi kelompok baik dengan sesama teman kuliah atau kepada pihak-pihak yang menurut Anda dapat membantu dalam memahami mata kuliah ini.

MODUL 1 TEORI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPA DI SD

Teori Belajar dalam Pembelajaran IPA di SD Kemampuan khusus yang diharapkan tercapai setelah Anda mempelajari modul ini, adalah: 1. menjelaskan teori Piaget dengan benar, 2. memberikan contoh penerapan teori Piaget dalam pembelajaran IPA di SD kelas III, IV, V dan VI, 3. menjelaskan model Bruner dengan benar, 4. memberikan contoh penerapan model Bruner dalam pembelajaran IPA SD kelas III, IV, V dan VI, 5. membandingkan dasar-dasar teori Piaget dari model Bruner.

JEAN PIAGET (1896 – 1980)

• Jean Piaget menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka; informasi tidak sekadar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan. • Seorang anak melalui serangkaian tahap pemikiran dari masa bayi hingga masa dewasa.

PROSES KOGNITIF PIAGET 1. Skema → kerangka kognitif / kerangka referensi 2. Asimilasi →proses memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada 3. Akomodasi →menyesuaikan diri dengan infomasi yang baru 4. Organisasi → mengelompokkan perilaku/ konsep kedalam kelompok yang terpisah ke dalam sistem kognitif yang lebih tertib, lancar 5. Ekulibirasi → bergerak dari satu tahap ke tahap yang lain → Jika berhasil akan mendapatkan keseimbangan pemikiran

TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN PIAGET 1. Tahap sensorimotorik (0-2 tahun) 2. Tahap praoperasional (2-7 tahun) 3. Tahap operasi konkret (7-11 tahun) 4. Tahap operasi formal (mulai 11 atau 12 tahun) 5. Tahap-tahap ini secara kualitatif sangat berbeda.

Tahap 1: sensorimotorik 1. Berlangsung pada usia 0 – 2 tahun. 2. Perkembangan mental ditandai oleh kemajuan yang pesat dalam kemampuan bayi mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi melalui gerakan dan tindakan fisik.

Tahap sensorimotorik terbagi 6 periode 1. Periode 1: refleks (0 – 1 bulan) 2. Periode 2: kebiasaan (1 – 4 bulan) 3. Periode 3: reproduksi (4 – 8 bulan) 4. Periode 4: koordinasi skemata (8 – 12 bulan) 5. Periode 5: eksperimen (12 – 18 bulan) 6. Periode 6: representasi (18 – 24 bulan)

Ciri-ciri sensorimotor 1. Didasarkan tindakan praktis. 2. Inteligensi bersifat aksi, bukan refleksi. 3. Menyangkut jarak yang pendek antara subjek dan objek. 4. Mengenai periode sensorimotor: ❑ Umur hanyalah pendekatan. Periode-periode tergantung pada banyak faktor: lingkungan sosial dan kematangan fisik. ❑ Urutan periode tetap. ❑ Perkembangan gradual dan merupakan proses yang kontinu.

Tahap praoperasional (2-7 tahun) 1.Dicirikan dengan adanya fungsi semiotik (simbol) → 2-4 tahun. 2.Berkembangnya pemikiran intuitif → 4-7 tahun.

Fungsi semiotik pada beberapa gejala 1. Imitasi tak langsung → membuat imitasi yang secara tidak langsung dari bendanya sendiri. Contoh: anak bermain kue- kuean sendiri, pasar-pasaran. 2. Permainan simbolis. Contoh: mobil-mobilan dengan balok- balok kecil. 3. Permainan simbolis dapat merupakan ungkapan diri anak. 4. Menggambar. Anak dapat menggambar realistis tetapi tidak proporsional. Contoh: gambar rumah dan pepohonan tegak lurus di lereng pegunungan. 5. Mengetahui bentuk-bentuk dasar geometris: bulat, bundar, persegi.

• Gambaran mental

• Bahasa ucapan. Anak mulai menggunakan suara sebagai representasi benda atau kejadian. • Perkembangan bahasa sangat memperlancar perkembangan konseptual anak dan juga perkembangan kognitif anak. • Menurut Piaget: perkembangan bahasa merupakan transisi dari sifat egosentris ke interkomunikasi sosial.

Pemikiran intuitif 1. Pemikiran anak berkembang pesat secara bertahap ke arah tahap konseptualisasi. 2. Belum bisa berpikir multidimensi.

Ciri-ciri pemikiran lain 1. Egosentris. Anak belum bisa melihat dari perspektif orang lain. 2. Adaptasi yang tidak disertai gambaran yang akurat. Ingatan recognition dan ingatan evocation.

3. Reversibilitas belum terbentuk. Anak belum mampu untuk meniadakan suatu tindakan dengan memikirkan tindakan tersebut dalam arah yang sebaliknya. 4. Pengertian kekekalan belum lengkap. 5. Klasifikasi figuratif. 6. Relasi ordinal/serial. Anak masih kesulitan mengurutkan suatu seri. 7. Kausalitas. Banyak bertanya “mengapa?”

Tahap operasi konkret (7-11 tahun) 1. Logika tentang sifat reversibilitas dan kekekalan. 2. Berpikir decentering, seriasi, klasifikasi, kesimpulan probalistis. 3. Tidak lagi egosentris. 4. Masih terbatas pada hal-hal konkret. 5. Belum dpt memecahkan persoalan yang abstrak.

Tahap operasi formal (mulai 11-15 tahun) 1. Mulai perkembangan reasoning dan logika remaja. 2. Asimilasi dan akomodasi berperan membentuk skema lebih menyeluruh. 3. Pemikiran remaja = dewasa secara kualitas, namun beda kuantitas, skema org dewasa lebih banyak. 4. Pemikiran deduktif, induktif dan abstraktif.

TAHAP PERKIRAAN USIA CIRI KHUSUS Sensori Motor 0 – 2 tahun Kecerdasan motorik (gerak) dunia (benda) yang ada adalah yang tampak tidak ada bahasa pada tahap awal Pre-Ooperasional 2 – 7 tahun Berpikir secara egosentris alasan-alasan didominasi oleh persepsi lebih banyak intuisi daripada pemikiran logis belum cepat melakukan konsentrasi Konkret 7 – 11 atau 12 Dapat melakukan konservasi logika tentang kelas dan Operasional tahun hubungan pengetahuan tentang angka berpikir terkait dengan yang nyata Formal 7 – 11 atau 12 Pemikiran yang sudah lengkap pemikiran yang proporsional Operasional tahun 14 tahun kemampuan untuk mengatasi hipotesis perkembangan atau 15 tahun idealisme yang kuat

Teori Belajar Kognitif 1. belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. 2. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. 3. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

Prinsip Belajar 1. belajar aktif → akan menghindarkan siswa dari kebosanan 2. belajar lewat interaksi sosial,manusia 3. belajar lewat pengalaman sendiri,pada pembelajaran ini proses mencari ilmu dilakukan secara tidak sengaja, jadi siswa merasa tidak terpaksa untuk belajar

Implikasi dalam Belajar 1. Bahasa dan cara berfikir siswa berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir siswa. 2. Siswa-siswa akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu siswa agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. 3. Bahan yang harus dipelajari siswa hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. 4. Berikan peluang agar siswa belajar sesuai tahap. 5. Di dalam kelas, siswa-siswa hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

Contoh Aplikasi • Menentukan tujuan instruksional • Memilih materi pelajaran misal udara yang bergerak • Menentukan topik yang mungkin dipelajari secara aktif • Menentukan dan merancang kegiatan belajar yang coco*k untuk topik yang akan dipelajari. • Mempersiapkan pertanyaan yang dapat memacu kreatifitas mahasiswa untuk berdiskusi atau bertanya • Mengevaluasi proses dan hasil belajar

PENERAPAN TEORI PIAGET DALAM PEMBELAJARAN IPA DI SD Menurut Piaget, ada sedikitnya tiga hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam merancang pembelajaran di kelas, terutama dalam pembelajaran IPA. Ketiga hal tersebut adalah : 1. Seluruh anak melewati tahapan yang sama secara berurutan 2. Anak mempunyai tanggapan yang berbeda terhadap suatu benda atau kejadian ; 3. Apabila hanya kegiatan fisik yang diberikan kepada anak, tidaklah cukup untuk menjamin perkembangan intelektual anak.

CARA PEMBELAJARAN IPA DI SD BERDASARKAN TEORI PIAGET 1. Guru harus selalu memperhatikan pada setiap siswa apa yang mereka lakukan, apakah mereka melaksanakan dengan benar, apakah mereka tidak mendapatkan kesulitan. 2. Guru harus berbuat seperti apa yang Piaget perbuat yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan sendiri jawabannya, sedangkan guru harus selalu siap dengan alternatif jawaban bila sewaktu-waktu dibutuhkan. 3. Pada akhir pembelajaran, guru mengulas kembali bagaimana siswa dapat menemukan jawaban yang diinginkan.

UJI KOMPETENSI 1.Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam merancang pembelajaran bagi anak kelas 1 SD? 2.Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam merancang pembelajaran bagi anak kelas 3 SD? 3.Buat rancangan pembelajaran dari salah satu topik IPA kelas 6. Tuliskan pula alasan untuk tiap langkah yang diambil! 4.Apa kekuatan dan kelemahan penerapan teori Piaget dalam pembelajaran IPA di SD!

TEORI BELAJAR BRUNER (KOGNIVISTIK) 1. Jerome Bruner merupakan salah seorang ahli psikolog perkembangan dan ahli belajar kognitif. 2. Belajar merupakan kegiatan perolehan informasi 3. Menurut Bruner, perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap, yaitu : 1. Tahap enaktif : dalam memahami dunia anak mengunakan pengetahuan motorik : sentuhan, pegangan dll. 2. Tahap ikonik : Seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar atau visualisasi verbal. 3. Tahap simbolik : seseorang memahami dunia melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika dll.

1. Perkembangan bahasa besar pengaruhnya terhadap perkembangan kognitif. 2. Dalam proses belajar, Bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang. 3. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan sendiri suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupannya → Free Discovery Learning.

LANGKAH- LANGKAH PEMBELAJARAN BRUNER 1. Menentukan tujuan pembelajaran. 2. Melakukan identifikasi karakteristtik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya). 3. Memilih materi pelajaran. 4. Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara induktif (dari contoh- contoh ke generalisasi). 5. Mengembangakan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari siswa. 6. Mengatur topik-topik pelajaran dari sederhana ke kompleks, dari konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik, sampai ke simbolik. 7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

PENERAPAN MODEL BELAJAR BRUNER DALAM PEMBELAJARAN IPA DI SD 1. Dalam penerapannya dalam proses pembelajaran di kelas, Bruner mengembangkan model pembelajaran penemuan. 2. Model ini pada prinsipnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh informasi sendiri dengan bantuan guru dan biasanya menggunakan barang yang nyata. 3. Peranan guru dalam pembelajaran ini bukanlah sebagai seorang pemberi informasi melainkan seorang penuntun untuk mendapatkan informasi.

CARA PEMBELAJARAN IPA DI SD BERDASARKAN TEORI BRUNER Guru harus mempunyai cara yang baik untuk tidak secara lansung memberikan informasi yang dibutuhkan oleh siswa. Model pembelajaran ini mempunyai banyak manfaat, antara lain : 1. Pembelajar (Siswa) akan mudah mengingat materi pembelajaran apabila informasi tersebut didapatkan sendiri, bukan merupakan informasi perolehan. 2. Apabila pembelajar telah memperoleh informasi, maka dia akan mengingat lebih lama.

Ciri umum pembelajaran penemuan 1. Keterlibatan siswa dalam proses belajar. 2. Peran guru adalah sebagai seorang penunjuk (guide) dan pengarah bagi siswanya yang mencari informasi. Jadi guru bukan sebagai penyampai informasi. 3. Umumnya dalam proses pembelajaran digunakan barang-barang nyata.

SARAN UNTUK PEMBELAJARAN PENEMUAN 1. Bagi siswa di dalam kelas menjadi beberap grup (4-6 siswa) 2. Beri tugas yang jelas untuk setiap anggota grup. 3. Beritahukan tugas dan tanggung jawab anggota 4. Berikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan aturan-aturan yang digunakan untuk seluruh kelas dan dalam grupnya. 5. Berikan arahan terhadap aktivitas yang akan dilakukan sebelum alat dan bahan yang akan dipakai dibagikan kepada siswa. 6. Hanya penanggungjawab material yang diperbolehkan untuk mengambil dan mengembalikan material yang dipakai. 7. Guru berkeliling mendekati grup secara bergantian. 8. Jika ingin memindahkan siswa dari dan satu grup, laukan sedikit demi sedikit.

CONTOH PEMBELAJARAN BRUNER 1. Siswa mengenali bagian-bagian tumbuhan (pelajaran kelas 3) 2. Udara diperlukan dalam pembakaran (pelajaran kelas 4)

UJI KOMPETENSI 1.Bandingkan teori Piaget dan Bruner ! 2.Buatlah contoh pembelajaran IPA di SD berdasarkan teori Bruner!

Jawaban uji kompetensi silahkan dituliskan pada pada kolom diskusi di LMS

TERIMA KASIH BANYAK

LATIHAN SOAL

Piaget membagi perkembangan mental anak menjadi empat tahapan. Tahapan dimana anak telah dapat melakukan konservasi logika tentang kelas dikenal .... A. Sensori motor B. Pre-Operasional C. Konkret Operasional D. Formal Operasional

Jawab: C. Benar, karena anak telah berada pada tahap melakukan Pembahasan: Pelajari Modul 1 tentang Teori Piaget dabn penerapannya dalam pembelajaran IPA

Pembelajaran IPA dengan bahasan udara yang bergerak mempunyai tekanan yang lebih rendah daripada udara diam diberikan alat peraga dua bola pimpong, benang, dan kayu. Dengan menggunakan pendekatan teori piaget, pembelajaran tersebut tepat diberikan pada anak pada tahap .... A. Sensori motorik B. Pre-Operasional C. Konkret Operasional D. Formal Operasional

Jawab: C. Benar, karena Konkret Operasional adalah perkembangan anak pada usia 7 - 11 tahun Pembahasan: Pelajari Modul 1 tentang Teori Piaget dan penerapannya dalam pembelajaran IPA SD


Expert Introduction:

I am a seasoned education professional with a deep understanding of pedagogical concepts, particularly in the field of Science education at the elementary level. My expertise is grounded in both theoretical knowledge and practical experience, having worked extensively in curriculum development and teacher training. I have a comprehensive grasp of the intricacies involved in designing and implementing effective science learning modules, aligning them with competency-based curricula while considering the developmental characteristics of students.

Now, let's delve into the key concepts discussed in the article on "Pembelajaran IPA di SD Anita Ekawati, S.Pd., M.Si."

Overview of the Course:

The course on Science (IPA) learning at the elementary school level, as presented by Anita Ekawati, S.Pd., M.Si., aims to provide a thorough understanding of student characteristics and the application of learning theories in the context of Science education. The overarching goal is to evaluate the process and outcomes of Science learning using appropriate approaches, methods, and learning tools aligned with the specified curriculum.

Course Modules:

The course is structured into nine modules, each focusing on different aspects of Science education at the elementary level:

  1. Modul 1: Teori Belajar dalam Pembelajaran IPA SD (Learning Theories in Elementary Science Education)
  2. Modul 2: Pendekatan dalam Pembelajaran IPA SD (Approaches in Elementary Science Education)
  3. Modul 3: Metode dalam Pembelajaran IPA SD (Methods in Elementary Science Education)
  4. Modul 4: Keterampilan Proses IPA di SD (Process Skills in Elementary Science)
  5. Modul 5: Media dan Alat Peraga dalam Pembelajaran IPA (Media and Teaching Aids in Science Education)
  6. Modul 6: Pembelajaran IPA Terintegrasi (Integrated Science Education)
  7. Modul 7: Evaluasi Proses dan Hasil Belajar IPA (Evaluation of Process and Outcomes in Science Learning)
  8. Modul 8: Telaah Kurikulum 2013 dan Pembelajarannya dalam Rancangan Pembelajaran IPA di Tingkat SD/MI (Review of the 2013 Curriculum and its Implementation in Science Education Design for Elementary Schools)
  9. Modul 9: Merancang Pembelajaran IPA (Designing Science Learning)

Each module is assigned a weight of 3 SKS (Sistem Kredit Semester) or credit hours.

Key Learning Outcomes:

The expected abilities after completing this course include:

  1. Understanding student characteristics and applying learning theories in Science education.
  2. Applying appropriate teaching methods based on material characteristics.
  3. Implementing suitable learning approaches aligned with material characteristics.
  4. Applying process skills in Science education in line with material characteristics.
  5. Designing and utilizing learning tools in Science education suitable for material characteristics.
  6. Designing the evaluation of process and outcomes in Science learning.
  7. Creating accurate evaluation tools aligned with material characteristics.

Teori Belajar dalam Pembelajaran IPA SD (Module 1):

This module introduces the theories of Piaget and Bruner, focusing on Piaget's stages of cognitive development.

Jean Piaget's Cognitive Development:

  • Emphasizes that children actively construct their cognitive world.
  • Describes cognitive processes: schema, assimilation, accommodation, organization, and equilibration.
  • Identifies developmental stages: sensorimotor, preoperational, concrete operational, and formal operational.

Teaching Implications of Piaget's Theory:

  • Tailor learning experiences to students' cognitive development stages.
  • Provide opportunities for active experimentation, interaction with peers, and guidance from teachers.
  • Foster active engagement with the environment to promote discovery and understanding.

Bruner's Cognitive Learning Theory:

  • Learning involves acquiring information.
  • Three stages of cognitive development: enactive, iconic, and symbolic.
  • Emphasizes the role of language and culture in learning.

Teaching Implications of Bruner's Theory:

  • Focus on discovery learning, allowing students to explore concepts with guidance.
  • Encourage students to construct their understanding through real-world examples.
  • Emphasize the importance of language and cultural influences in the learning process.

In subsequent modules, the application of these theories in designing and implementing Science education in elementary schools is explored. The course encourages active learning, group discussions, and practical application of theoretical knowledge.

Conclusion:

In summary, the course on Pembelajaran IPA di SD is designed to equip educators with the knowledge and skills to effectively teach Science at the elementary level. The integration of Piaget's and Bruner's theories provides a solid theoretical foundation, and the practical modules offer hands-on experience in implementing these theories in the classroom. This comprehensive approach aims to enhance the quality of Science education in elementary schools.

Modul 1 pembelajaran IPA di SD - Unduh Buku | 1-48 Halaman (2024)

References

Top Articles
Latest Posts
Article information

Author: Prof. An Powlowski

Last Updated:

Views: 6270

Rating: 4.3 / 5 (64 voted)

Reviews: 95% of readers found this page helpful

Author information

Name: Prof. An Powlowski

Birthday: 1992-09-29

Address: Apt. 994 8891 Orval Hill, Brittnyburgh, AZ 41023-0398

Phone: +26417467956738

Job: District Marketing Strategist

Hobby: Embroidery, Bodybuilding, Motor sports, Amateur radio, Wood carving, Whittling, Air sports

Introduction: My name is Prof. An Powlowski, I am a charming, helpful, attractive, good, graceful, thoughtful, vast person who loves writing and wants to share my knowledge and understanding with you.